kaknzul.com

Anak Boleh Memilih

💕

Anak Boleh Memilih

By: Nida Zulkhaira @kaknzul

 

 

            “Duh akhir~akhir ini anakku suka yang aneh~aneh. Dikasih tau susah nurutnya!”

Setiap orang tua tentunya ingin yang terbaik bagi buah hatinya. Namun, bukan berarti anak tidak boleh menentukan pilihannya. Terlalu mengatur pilihan anak dan tidak memberikan kesempatan kepada anak untuk menentukan pilihannya ternyata memiliki dampak yang buruk bagi anak, diantaranya:

1.    Mudah Tantrum

Bayangkan jika semua yang ingin dilakukan harus sesuai dengan keinginan orang lain dan sedikitpun tidak diberi kesempatan untuk memilih. Tentu ini bukanlah kondisi yang menyenangkan. Merasa berulangkali gagal untuk melakukan apa yang ingin dilakukan membuat anak pada akhirnya mudah depresi dan berujung pada perilaku tantrum. Sebab, tantrum adalah cara yang akhirnya ia pilih untuk meluapkan emosi yang selama ini ia pendam akibat dari kegagalan atau penolakan dari orang tua ketika ia menyampaikan pilihan atau keinginanya.

2.    Tidak Percaya Diri

Ketika semua hal terbiasa di pilihkan orangtua ternyata membuat anak merasa tidak percaya diri saat menentukan/melakukan sesuatu tanpa bantuan dari orangtua. Sayangnya, jika ini terjadi terus menerus akan berdampak pada kehidupan sosial anak.

3.    “Plin Plan”

Anak, tidak akan selamanya menjadi anak~anak. Ada fase dimana anak~anak akan tumbuh menjadi manusia dewasa. Sayangnya, ketika sejak kecil ia tidak diberikan kesempatan untuk memilih pilihannya, ia akan cenderung “plin plan” disebabkan selama ini ia begitu bergantung pada orang tuanya. Hal ini justru sangat merugikan anak ketika ia telah tumbuh dewasa dan memasuki fase rumah tangga. Tak sedikit konflik rumah tangga yang berawal dari pasangan yang serba bergantung pada orang tua.

4.    Tidak terlatih untuk menyelesaikan permasalahannya

Saat anak diizinkan untuk memilih tentunya anak akan belajar bertanggung jawab menyelesaikan persoalan yang timbul dari keputusan yang ia pilih. Misal, si kecil tetap ingin menuang air minum sendiri tanpa bantuan orang tua. Ternyata ketika menuang, air tersebut tumpah ke meja. Orang tua dapat memancing anak untuk menyelesaikan dari persoalan air tumpah tersebut.

“Kalau tumpah apa yang harus kita lakukan ya, Kak?”

Tanpa dilatih kemampuan anak untuk menyelesaikan masalahnya, kelak ketika ia tumbuh dewasa rasa tanggung jawab itu tidak akan muncul. Bahkan, cenderung akan menjadi orang dewasa yang lari dari masalah.


 

Ketika anak mengajukan keinginan atau pilihannya bukan berarti ia adalah anak yang tidak penurut. Terlalu dini menyimpulkan hal tersebut apalagi sampai melabeli si kecil dengan sebutan “anak tidak penurut atau anak susah diatur ”. Sebab, ini adalah tanda aspek perkembangan sosial emosialnya yang tengah tumbuh dan berkembang. Ia sedang mencoba mengutarakan berbagai hal keinginan maupun pilihan yang ingin ia lakukan.

Nah, apa yang harus dilakukan orang tua ketika anak menyampaikan keinginan atau pilihan yang ingin ia coba lakukan?

1.    Berdiskusi 

Tampung apa yang menjadi keinginan atau pilihan anak yang ingin ia coba lakukan. Lalu, sampaikan apa saja yang bisa terjadi ketika hal itu tetap dilakukan. Misal ketika anak tetap ingin minum dari tutup botol.

“Sayang, kalau minum pakai cangkir atau gelas ya. Kalau tutup botol ini terlalu kecil airnya bisa tumpah”

2.    Dampingi

Di kesempatan ini, ketika anak ternyata menemui permasalahan, moment ini bisa menjadi kesempatan si buah hati untuk belajar bertanggung jawab dari pilihan yang ia pilih. Misal ketika minum dengan tutup botol, ternyata airnya tumpah ke meja. Pancing anak untuk menyelesaikan masalah yang tengah ia hadapi.

“Kalau tumpah harus gimana ya, kak?”

Ada banyak kesempatan anak untuk belajar tentang banyak hal. Salah satunya, dari pilihan yang ia pilih. Memberikan kesempatan kepada anak tidak hanya menguntungkan bagi anak, tetapi juga bagi orang tua. Sebab, kerepotan yang timbul dari tantrumnya anak yang sering dipaksa untuk melakukan keinginan orang tuanya justru membuat orang tua terjebak dalam situasi yang penuh emosi. Belum lagi, rasa percaya diri yang kurang, tidak mampu menyelesaikan permasalahannya dan “plin plan” saat memutuskan sesuatu akan menimbulkan kerepotan di kemudian hari. Karena,  anak yang penurut saat kecil bisa jadi justru merepotkan ketika dewasa. Sebaliknya, anak yang mencoba mengutarakan pilihannya, bisa jadi ketika dewasa akan tumbuh menjadi anak yang akan mampu menghadapi berbagai persoalan hidupnya.

 

Post a Comment

Terimakasih sudah berkunjung ^ ^ Untuk masukan dan saran bisa disampaikan via email nidazulkhaira93@gmailcom.