kaknzul.com

Review Filasofi Teras

review filasofi teras


Hai sobat berdaya! Tahukah sobat, ada salah satu senjata tajam mematikan yang dapat membunuh manusia. Senjata itu bernama pikiran.

Banyak manusia yang merasa tak bahagia, kecewa, marah bahkan ingin mengakhiri hidupnya disebabkan buah dari pikirannya sendiri.

Akal dan pikiran memang nikmat yang Allah berikan. Namun, jika ia tak diberikan nutrisi yang baik dan tak mampu dikelola dengan baik, maka ia dapat menjadi boomerang.

Banyak kejadian dalam hidup yang sebenarnya netral, tapi menjadi runyam disebabkan pikiran yang menyulitkan hidup manusia.

Salah satu yang bisa kita lakukan dalam menutrisi akal dan pikiran adalah dengan membaca. Berikut adalah salah satu buku yang mengajak kita semua untuk mengelola pikiran.

Sebuah buku self improvement yang Kaknzul tuntaskan di bulan Januari ini akan menjadi buku pertama di tahun 2024. Kaknzul tuliskan review Filasofi teras ini menjadi pengantar buat sobat berdaya dalam mengenali buku tersebut.

Tentang buku Filasofi Teras

buku filasofi teras

Buku national best seller ini ditulis oleh seorang penulis yang menceritakan pengalamannya dalam menjalani hidup dengan mempraktekkan filasafat Yunani-Romawi kuno untuk membangun mental tangguhnya.

Judul buku: Filasofi Teras

Penulis: Henry Manampiring

Editor: Patricia Wulandari

Ilutrator: Levina Lesmana

Desain Cover: Levina Lesmana

Layout: Cindy Alif

Tahun terbit: 2019

ISBN: 978-602-412-518-9


Blurb

Apakah kamu sering merasa khawatir akan banyak hal?

Baperan?

Susah move on?

Mudah tersinggung?

Dan marah-marah di sosial media maupun dunia nyata?


Lebih dari 2.000 tahun lalu, sebuah mazhab filsafat menemukan akar masalah dan juga solusi dari banyak emosi negative. Stoisisme atau filasofi teras adalah filsafat Yunani-Romawi kuno yang bisa membantu kita mengatasi emosi negative dan menghasilkan mental yang tangguh dalam menghadapi naik-turunnya kehidupan.

Jauh dari kesan filsafat sebagai topik berat dan mengawang-ngawang, filasofi teras justru bersifat praktis dan relevan dengan kehidupan Generasi Milenial dan Gen-Z masa kini.

Kesan

Memilih buku ini sebenarnya karena penasaran sama judulnya. Cuma ada rasa khawatir di awal. Khawatir kalau bahasa yang digunakan sulit Kaknzul pahami. Tapi, Alhamdulillah bahasa yang digunakan mudah untuk dipahami. Sehingga, tidak bosan saat membacanya.

Namun, entah kenapa ketika penulis menyinggung tentang perbedaan agama, Kaknzul tidak setuju dengan pendapatnya. Sebab, perbedaan dalam beragama bagi Kaknzul sudah selesai. Agamaku untukku, Agamamu untukmu. Jadi, buat Kaknzul tidak ada lagi yang perlu dipermasalahkan selama bisa saling menghargai satu sama lain.

Beberapa teori yang Kaknzul temukan di buku ini menarik. Karena sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Jadi, baca buku ini banyak merenungnya heheh. Ia, merenungi makna dari teori yang emang berkaitan dengan kehidupan. Jadi, harus benar-benar diresapi.

Selain itu, teori yang disampaikan dalam buku ini membuat Kaknzul teringat dengan perintah-perintah di dalam Al Qur'an. Misal, tentang dikotomi kendali. Penulis mengajak pembacanya agar fokus pada segala sesuatu yang dapat kita kendalikan. Karena bahagia itu adalah mengendalikan segala sesuatu yang dapat dikendalikan. Benar ya, karena terkadang yang membuat manusia stress, tidak terima, memaksa, melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hukum dunia maupun hukum Sang Pencipta adalah ketika seseorang memaksakan kehendaknya. Pada akhirnya, ia tidak bahagia.

Dalam islam, konsep ini dinamakan dengan tawakal. Bahwa, dalam hidup ini ada bagian manusia dan ada bagian Allah. Dimana ikhtiar adalah ranahnya manusia, sedangkan hasil adalah ranahnya Allah. Jadi, itulah kenapa Kaknzul sebut baca buku ini membuat Kaknzul banyak merenung. Sebab, membuat Kaknzul teringat dengan perintah-perintah yang ada di dalam islam.

Kesimpulan

review buku filasofi teras

Salah satu pintu bahagia manusia memang lewat pikirannya. Bahkan, terkadang seseorang dapat mengakhiri hidupnya juga karena pikirannya. Penyakit yang menghinggapi tubuh juga bisa karena pikiran. Jadi, perlu sekali buat Kaknzul membangun pribadi tangguh dengan membangun mental yang tangguh lewat pikiran kita.

Buku ini cocok banget buat sobat berdaya yang ingin mental tangguh menghadapi kenyataan dunia yang terkadang tak selalu baik-baik saja. Menyiapkan diri agar mampu mengendalikan apa yang bisa kita kendalikan, sehingga tidak terjerumus dalam tindakan yang membuat kita tidak bahagia.

Selamat membaca!

1 comment

Terimakasih sudah berkunjung ^ ^ Untuk masukan dan saran bisa disampaikan via email nidazulkhaira93@gmailcom.
  1. Betul Bun, bahasa ini ringan banget bisa selesai sekali baca tapi tetap berkesan.

    ReplyDelete