kaknzul.com

BERPISAH untuk BERTEMU



bertemu di dunia, tapi bermusuhan  di akhirat


Hai sobat berdaya! Tahu tidak, dalam hidup ini ada sesuatu yang pasti terjadi tapi kita sendiri tidak tahu kapan waktunya. Apa itu? Perpisahan dan pertemuan. Karena dunia ini juga hanya sebagai tempat transit, maka sifatnya juga hanya sementara. Segala sesuatu yang terjadi di dunia akan berlangsung sementara. Namun, segala sesuatu yang dilakukan di dunia akan menentukan kondisi kita setelah kehidupan di dunia ini.

Berikut 4 kondisi manusia setelah di dunia.

 Bertemu di dunia, tapi tidak bertemu di akhirat

bertemu di dunia tapi tak bertemu di akhirat

“Pada hari ketika langit menjadi seperti luluhan perak. Dan gunung-gunung menjadi seperti bulu (yang berterbangan) Dan tidak ada seorang teman akrab pun menanyakan temannya. Sedang mereka saling melihat. Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya. Dan isterinya dan saudaranya. Dan kaum familinya yang melindunginya ( di dunia) mengharapkan tebusan itu dapat menyelamatkannya. Sekali-kali tidak dapat. Sesungguhnya Neraka itu adalah api yang bergejolak. Yang mengelupaskan kulit kepala. Yang memanggil orang yang membangkang dan yang berpaling (dari agama). Serta mengumpulkan (harta benda) lalu menyimpannya. (QS. Al Ma’aarij: 8-14)

Allah Subhanallahu wa ta’ala menggambarkan kondisi mereka (orang-orang kafir) di dalam Surat Al Ma’aarij: 8-14. Ketika orang-orang kafir melihat berbagai hal yang mengerikan di hari Kiamat, maka ia bermaksud menebus dirinya dengan anak-anaknya, isterinya, saudaranya dan kaum familinya. Padahal pada hari itu, tidak ada tebusan yang diterima di sisi Allah Subhanallahu wa ta’ala.

Lantas, apa yang membuat kondisi mereka seperti itu? Sebab, pertemuan mereka di dunia karena kemaksiatan dan kekufuran kepada Allah Subhanallahu wa ta’ala.

Tidak bertemu di dunia, tapi bertemu di akhirat

tidak bertemu di dunia, tapi bertemu di akhirat


“Dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu Nabi-Nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-nisa:69)

Mereka yang tidak pernah bertemu di dunia, tapi bertemu di akhirat adalah orang-orang yang beriman. Mereka akan bertemu dengan para Nabi, para shinddiqin, para syuhada, dan orang-orang shalih. Pertemuan mereka disebabkan keimanan kepada Allah Subhanallahu wa ta’ala semata.

Bertemu di dunia, tapi bermusuhan di akhirat

bertemu di dunia, tapi bermusuhan di akhirat

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-zukhruf:67)

Mereka adalah golongan yang berteman dan bersahabat di dunia selain karena Allah. Dan semua pertemanan yang bukan karena Allah, kelak akan berbalik menjadi permusuhan di hari Kiamat nanti. Tak ada saling mengajak pada kebaikan dalam pertemanan ini. Foya-foya, senang-senang di dunia, hanya mengurusi urusan dunia, atau berteman hanya untuk berlomba untuk menunjukkan yang ia miliki di dunia, maka kelak mereka akan saling menyalahkan dan bermusuhan di hari Akhir.

Termasuk, menuntutnya seorang anak sebab tak pernah diajarkan ilmu agama oleh Ayahnya, menggugatnya seorang istri kepada suami yang tak memberikan arahan agama, serta saling menjatuhkannya sahabat kepada temannya yang tidak pernah mengajak pada amal shaleh.

 Bertemu di dunia dan bertautan di akhirat

bertemu di dunia dan bertautan di akhirat

“Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tidak mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS: Ath-Thur:21)

Ayat ini menjadi bukti kemurahan, dan kelembutan-Nya atas anugerah dan karunia yang Dia berikan kepada manusia. Allah mengabarkan tentang seorang mukmin yang diikuti keturunannya, maka mereka dipertemukan dengan nenek moyang mereka di suatu tempat. Meskipun amal perbuatan mereka tidak sama dengan amal nenek moyang mereka, tapi agar nenek moyang mereka itu merasa senang dengan kehadiran anak-anaknya di sisi mereka, di tempat kediaman mereka. Mereka dikumpulkan dengan cara yang paling baik, yakni orang yang mempunyai amal yang kurang akan ditinggikan derajatnya melalui orang yang amalnya sudah sempurna, tanpa mengurangi amal orang tersebut (Tafsir Ibnu Katsir).

Kelak mereka yang bertemu di dunia dan bertautan di akhirat adalah mereka yang semasa hidupnya saling mengingatkan dan menasehati tentang kebaikan. Pertemuan mereka di dunia dalam rangka mengajak pada kebaikan dan mendekat diri kepada Allah Subhanallahu wa ta’ala. Tak hanya itu, mereka juga saling mengingatkan dikala temannya sedang jatuh dalam keburukan.

“Sesungguhnya Allah akan meninggikan derajat bagi seorang hamba yang shalih di Surga, lalu ia berkata: ‘Wahai Rabb-Ku, dari mana aku mendapatkan ini?’ Maka Allah menjawab, ‘Dengan istighfar (permohonan ampun) anakmu untukmu.”’ (HR. Ahmad)

Dari ke empat keadaan yang akan dialami manusia di Yaumil Akhir, menjadi pengingat bagi saya. Bahwa, bagaimana kondisi dan keadaan kita kelak semuanya bergantung pada keimanan kita hari ini. Semoga Allah pertemukan dan himpun kita dalam satu tempat yang mulia, sebab usaha keras dalam menjaga keimanan hari ini hingga ajal tiba.





‹ OlderNewest ✓

Post a Comment

Terimakasih sudah berkunjung ^ ^ Untuk masukan dan saran bisa disampaikan via email nidazulkhaira93@gmailcom.